Catatan Perjalanan Kuliner Solo

Di akhir tahun 2018 kemarin kebetulan gw dan Arianna membawa Abby ke Kota Solo dan Boyolali untuk bertemu dengan keluarga besar. Ini merupakan perjalanan ke luar kota pertama dengan pesawat untuk Abby.

Dalam perjalanan ini kami menggunakan Citilink melalui Bandara Halim Perdana Kusuma. Arianna sengaja memesan kursi paling depan dengan tambahan biaya supaya kita mendapatkan ekstra space untuk Abby dan supaya mobilitas buat bapak dan ibu lebih mudah.

Oh iya, kalau kamu memesan kursi paling depan dalam perjalanan dengan Citilink, secara otomatis kamu akan mendapatkan fasilitas lounge di Halim Perdanakusuma. Sejauh ini fasilitas lounge ini hanya bisa didapatkan di Bandara Halim Perdanakusuma.

Menurut gw, loungenya tidak terlalu istimewa tetapi cukup baik untuk beristirahat jika waktu untuk boarding masih cukup lama.

Mang Engking

Lokasi kuliner pertama yang kami datangi setelah mendarat di Solo adalah Mang Engking. Ke Solo tapi makannya kuliner Sunda? Kenapa tidak? Hahaha.

Kami memilih Mang Engking karena mencari lokasi berkumpul yang cukup banyak menampung orang dengan pemandangan yang hijau (baca sawah).

Cari-cari di Solo, ketemunya Mang Engking ini. Dan karena sebetulnya kami makan dengan orang Solo, sebetulnya bisa jadi orang Solo sudah bosan dengan kulinernya sendiri.

Enaknya kalo kulineran rame-rame di Mang Engking ini karena mereka sudah punya menu paket untuk 10 orang. Ada beberapa paket pilihan menu. Nah tapi menurut gw ada yang aneh dengan Mang Engking. Di salah satu paket menu ada pilihan menu ayam yang di paket menu lain tidak ada dan kita tidak memesan menu ayam tersebut ala carte, hanya bisa dipesan untuk paket menu saja.

Sebetulnya tidak aneh juga sih karena kelihatannya Mang Engking fokus jualan di menu seafoodnya tapi agak menyusahkan juga kalau ada orang yang ingin memesan ayamnya di luar ketersediaan paket menu.

Dan pada akhirnya kami memesan paket menu dua-duanya. Ada paket A dan B yang bisa dipilih. Buat detil menunya bisa klik link berikut ini: http://mangengkingsolo.com/menu-komplit/

Secara keseluruhan, kami puas untuk menu-menunya Mang Engking dan memang cocok buat acara kumpul-kumpul bareng keluarga karena spacenya yang cukup luas.

Wedangan Mantap

Tantangan dalam perjalanan kali ini sebetulnya karena kita membawa Abby, jadi ketika hunting kuliner harus cari tempat yang nyaman juga buat Abby.

Malamnya kami janjian untuk bertemu teman lama Arianna di Wedangan Mantap. Warung wedangan atau kalau di Semarang dikenal dengan istilah warung nasi kucing biasanya buka mulai malam dan tersedia hampir di mana-mana di pinggir jalan.

 

Nah Wedangan Mantap ini versi modernnya untuk warung wedangan dengan tempat yang lebih nyaman. Semua pengunjung Wedangan Mantap bisa memilih dulu makanan yang ingin dipesan. Variasi lauk Wedangan Mantap cukup lengkap dari menu yang biasa seperti sate usus, sate kerrang atau sate telur puyuh sampai ke genre yang Chinese food seperti sate ayam char siu.

Setelah memesan kamu bisa langsung minta dibakar untuk kemudian disantap. Untuk nasinya gw langsung memesan nasi tumpeng, nasi dengan sambel tumpeng itu salah satu kenikmatan dunia yang tidak boleh dilewatkan

Baca: Bubur Sambel Tumpang.

Lokasi duduk Wedangan mantap terdiri dari 2 bagian: bagian dengan kursi dan lesehan. Kami memilih lokasi yang lesehan supaya Abby bisa lebih bergerak.
Setelah beberapa lama duduk saya menyadari pengunjung yang datang ke Wedangan Mantap ini hampir tidak ada yang merokok. Jadi sebetulnya salah satu lokasi yang ramah untuk membawa anak.

Kalau kamu beruntung bisa menempati lokasi ruang lesehan sebetulnya ruangannya cukup besar dan nyaman untuk duduk dan makan di situ sambil ngobrol-ngobrol. Waktu 2 jam untuk makan dan ngobrol akan tidak terasa di sana.

Untuk makanan sih puas banget, in overall semua enak. Kami sempat mencoba lumpia basah dan gorengnya. Somehow lumpianya terlalu manis jadi agak aneh rasanya, tapi di luar itu sih semua oke termasuk sate ayam char siu-nya.

Adem Ayem

Untuk wisatawan kuliner Kota Solo sepertinya Adem Ayem tidak boleh terlewatkan apalagi untuk orang-orang yang sudah sepuh seperti mertua gw haha. Mengunjungi dan bersantap di Adem Ayem itu mengenang nostalgia masa lalu.

Siang itu Adem Ayem ramai sekali dan kami harus menunggu beberapa menit untuk mendapatkan meja. Adem Ayem adalah salah satu restoran legendaris yang ada di Kota Solo yang terletak di Jalan Slamet Riyadi, salah satu jalan utama yang membelah Kota Solo.

Gw memesan Timlo dan Arianna memesan Nasi Gudeg dan Ayam Kremes. Kalau sudah ke Solo sepertinya tidak lengkap kalau tidak menyantap Timlo. Seingat gw kuah Timlo itu sebetulnya bening tapi di Adem Ayem kuahnya kecoklatan dengan telur pindang, bihun, potongan ayam dan tahu di dalamnya.

Kuah Timlo memang segar cenderung gurih dan sedikit manis. Cocoklah buat lidah orang Jawa hahaha. Untuk ayamnya sih juara kalau kata mertua saya karena menggunakan ayam kampung dan karena beliau maniak dengan menu ayam goreng jadi saya percaya saja dengan lidah beliau.

Oh iya, kalau kamu belum pernah berkunjung ke Adem Ayem sebaiknya browsing-browsing dulu aja menunya Adem Aye mini. Soalnya kalau belum pernah ke sana dijamin pasti bingung dengan banyaknya pilihan makanan.

Tips lain kalau kamu membawa mobil bisa diparkir di area masjid di belakang Adem Ayem. Di hari-hari yang ramai dijamin kamu tidak akan mendapatkan tempat parkir di sekitar kalau tidak beruntung.

Nasi Liwet Depan Ibis StylesSolo

Kemarin sempat lupa buat ambil foto nama warungnya ini.  Kebetulan karena kami menginap di Ibis Styles Solo dan di depan hotel persis ada warung nasi liwet yang direkomendasikan oleh salah satu keluarga.

Kalau kamu belum pernah menyantap nasi liwet, biasanya terdiri dari nasi gurih dengan potongan ayam, sayur jangan dan telur yang diberi kuah gereh.

Nasi Liwet di depan Ibis Styles Solo ini enak dan tidak mengecewakan. Ruang duduknya seperti warung nasi liwet kebanyakan yang memanfaatkan trotoar di sepanjang Kota Solo.

Sumber Bestik Pak Darmo

Target kami berikutnya tentu saja Bestik! Kalau kamu suka menyantap Selat Solo, sebetulnya genrenya mirip. Bestik disajikan dengan kuah yang bercitarasa manis dan ada sedikit asamnya. Ketika searching tempat Bestik yang lumayan nyaman untuk membawa anak ketemulah Bestik Pak Darmo ini dan kebetulan gak jauh dari hotel juga.

Sedikit tentang Bestik, kuliner ini merupakan adaptasi dari kuliner Belanda ‘biefstuk’ yang sudah mengalami perjalanan adaptasi dan kolaborasi dengan cita rasa orang Jawa.

Sumber Bestik Pak Darmo ini memang bentuknya masih warung tapi menempati sebuah ruangan gedung jadi lebih nyaman untuk membawa Abby dibandingkan kalau harus membawa Abby ke warung. Gw memesan Bestik Campur dengan lidah goreng.

Untuk sebuah warung bestik sebetulnya Sumber bestik pak Darmo punya variasi menu yang lumayan banyak. Kamu bisa memesan nasi goreng sampai cap cai. Lebih-lebih mirip-mirip warung Chinese food sebetulnya hahaha.

Kami cukup beruntung untuk datang lebih awal karena kalau dalam kondisi ramai bisa-bisa kita harus mengantri cukup lama untuk mendapatkan meja.

Dalam bestik ini, daging yang dipilih dicincang dan disajikan dalam piring berkuah kental coklat. Kuah tersebut merupakan perpaduan antara kaldu, kecap, dan mayones ala Solo.

Bestik juga disajikan bersama dengan potongan kentang goreng, buncis, selada, serta wortel rebus. Sebetulnya sebelas dua belas dengan Selat Solo tapi entah kenapa gw lebih menyukai Bestik dibandingkan Selat Solo.

Sebagai cemilan, gw memesan lidah goreng. Entah kenapa gw memang penyuka menu lidah. Lidah gorengnya rasanya cukup oke walaupun mungkin kalau buat orang tua terasa agak alot.

Secara keseluruhan, gw merekomendasikan Sumber Bestik Pak Darmo jika kamu ingin merasakan enaknya menu kuliner khas Solo yang satu ini.

Pecel Solo

Sebelum pulang kami menyempatkan diri buat makan siang di Pecel Solo. Karena penerbangan sore, jadi masih memungkinkan untuk hunting kuliner Solo untuk yang terakhir kali. Untungnya lagi Ibis Styles ini memang sangat strategis dan berdekatan dengan banyak lokasi kuliner, termasuk Pecel Solo ini.

Pecel Solo ini sebetulnya bisa dibilang one stop culinary destination untuk banyak kuliner karena kamu bisa memesan menu kuliner tradisional yang enak-enak seperti nasi liwet, nasi pecel sampai garang Asem. Kebayang kan enaknya? Kamu bisa memesan di meja lewat pelayan yang dateng atau pesan langsung ke meja yang penuh dengan hidangan yang berada di tengah restoran.

Saya memesan nasi pecel yang ternyata datang dengan kuah kacang yang agak pedas, tidak lupa sejumput pete goreng disematkan ke dalam piring. Restoran ini cukup unik dengan banyak barang-barang antic yang terpajang di hampir keseluruhan restoran. Kelihatannya sang pemilik mempunyai koleksi barang-barang antik yang cukup banyak.

Mertua saya memesan nasi liwet dan kelihatannya cukup otentik karena beliau cukup puas dengan rasanya. Resto Pecel Solo ini cocok untuk tempat makan bareng keluarga besar atau jika kita membawa banyak orang dan tidak mau repot dengan tempat sekaligus mendapatkan kuliner Solo yang enak.

Kelihatannya sudah cukup banyak ya tulisan untuk Kuliner Solo kali ini. Sayangnya masih ada satu kuliner Solo yang masih terlewat yaitu Gudeg Ceker dan Sate Buntel. Mudah-mudahan lain waktu ke Solo bisa menyempatkan diri untuk menikmati kedua jenis kuliner ini.

Jadi Kuliner Solo apa yang paling bikin kamu kangen?

0